KUASA ALLAH DI DALAM KELEMAHAN KITA



“Karena sekalipun Ia telah disalibkan oleh karena kelemahan, namun Ia hidup karena kuasa Allah”2 Korintus 13:4


Allah senang memakai orang-orang sederhana.

Semua orang memiliki kelemahan. Sesungguhnya, kita memiliki sejumlah kelemahan dan ketidak sempurnaan: fisik, emosi, intelektual, dan rohani. Kita juga mungkin memiliki keadaan yang tidak bisa dikendalikan yang memperlemah kita, seperti keterbatasan dalam keuangan, atau hubungan. Masalah yang lebih penting ialah apa yang kita kerjakan dengan kelemahan-kelemahan ini. Biasanya kita menyangkali kelemahan kita, membelanya, mencari dalih untuknya, menyembunyikannya, dan membencinya. Hal ini mencegah Allah menggunakannya dengan cara yang Dia inginkan.
Allah memiliki pandangan yang berbeda tentang kelemahan-kelemahan kita. Karena itu Dia sering bertindak dengan cara yang sangat bertentangan dengan apa yang kita harapkan. Kita mengira bahwa Allah hanya ingin memakai kekuatan-kekuatan kita, padahal Dia juga ingin menggunakan kelemahan-kelemahan kita bagi kemuliaanNya. Kelemahan kita bukanlah suatu kebetulan, Allah dengan sengaja mengijinkannya ada di dalam kehidupan kita dengan tujuan untuk menunjukkan kuasaNya melalui kita.
Allah tidak pernah terkesan dengan kekuatan atau kemampuan untuk mencukupi diri sendiri. Sesungguhnya, Dia tertarik kepada orang-orang yang lemah dan yang mengakui kelemahan mereka. Yesus menganggap pengakuan akan kebutuhan kita ini sebagai “miskin di hadapan Allah” inilah sikap pertama yang Dia berkati. Alkitab dipenuhi dengan contoh-contoh  tentang bagaimana Allah senang memakai orang-orang biasa yang tidak sempurna untuk melakukan hal-hal yang luar biasa walaupun mereka mempunyai berbagai kelemahan. Jika Allah hanya memakai orang-orang yang sempurna, tidak akan pernah ada yang diselesaikan, karena tidak seorangpun dari kita  yang tanpa kelemahan. Bahwa Allah memakai orang-orang yang tidak sempurna adalah berita yang menguatkan bagi kita semua.
Bila kita mengingat keterbatasan di dalam kehidupan kita itu, kita mungkin tergoda untuk menyimpulkannya, “Allah tidak pernah bisa memakaiku”, tetapi Allah tidak pernah dibatasi oleh berbagai keterbatasan kita. Sebetulnya Allah senang menaruh kuasaNya yang besar ke dalam bejana-bejana biasa. Seperti keramik biasa, kita mudah retak dan cacat serta pecah. Tetapi Allah akan memakai kita jika kita menginjinkanNya bekerja melalui kelemahan kita. Supaya hal tersebut terjadi, kita harus mengikuti teladan Paulus, seperti:

1.       Akuilah kelemahan kita
Akuilah ketidaksempurnaan kita. Berhentilah berpura-pura memiliki semuanya, dan jujurlah tentang diri kita sendiri. Daripada hidup dalam penyangkalan atau membuat alasan-alasan, ambillah waktu untuk mengenali kelemahan pribadi kita. Kita bisa membuat daftar kelemahan kita tersebut. dua pengakuan terkenal di dalam Alkitab Perjanjian Baru menggambarkan apa yang kita butuhkan untuk kehidupan yang sehat. Yang pertaman adalah pengakuan Petrus yang berkata kepada Yesus, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Pengakuan kedua adalah pernyataan Paulus, yang berkata kepada para penyembah berhala, “kami ini adalah manusia biasa sama seperti kamu.” Jadi jika kita ingin agar Allah memakai kita, kita harus mengenal siapa Allah dan mengenal siapa kita.

2.       Senanglah di dalam kelemahan-kelemahan kita
Mulanya hal ini tidak masuk akal. Kita ingin dibebaskan dari kelemahan-kelemahan kita, bukan senang dengannya! Tetapi rasa senang adalah ekspresi iman di dalam kebaikan Allah. Senang berarti mengatakan, “Tuhan, aku percaya Engkau mengasihiku dan Engkau tahu apa yang terbaik bagiku.” Paulus memberi kita beberapa alasan untuk senang di dalam kelemahan bawaan kita, yaitu:
a.       Kelemahan-kelemahan menyebabkan kita bergantung kepada Allah
b.       Kelemahan-kelemahan juga mencegah kesombongan atau kita tetap rendah hati
c.       Kelemahan-kelemahan mendorong diadakannya persekutu-   an antara orang-orang percaya
Allah ingin kita melakukan pelayanan seperti Kristus di dunia. Ini berarti orang-orang lain akan menemukan kesembuhan melalui luka-luka kita. Pesan kehidupan yang terbesar dan pelayanan kita yang paling efektif berasandari luka kita yang terdalam. Hal-hal yang paling memalukan kita dan paling berat untuk kita ceritakan adalah sarana-sarana yang Allah bisa gunakan dengan sangat luar biasa untuk memulihkan orang lain. Allah ahli dalam mengubah kelemahan menjadi kekuatan. Dia ingin mengambil kelemahan terbesar kita dan mengubahnya.

3.       Ceritakanlah dengan jujur kelemahan-kelemahan kita
Pelayanan diawali dengan keterbukaan. Semakin kita meruntuhkan benteng kita, menyingkapkan topeng kita, dan menceritakan pergumulan-pergumulan kita, Allah semakin mampu memakai kita untuk melayani orang lain. Paulus memberikan contoh keterbukaan di dalam semua suratnya. Dia secara terus terang menceritakan kegagalannya, perasaannya, keputusasaannya, dan ketakutannya.
Ketika kita mengungkapkan berbagai kegagalan, perasaan, keputusasaan, dan ketakukan kita, resikonya adalah kita ditolak. Tetapi keuntungannya sebanding dengan resikonya. Keterbukaan memerdekakan secara emosi. Membuka diri membuat tekanan berkurang, kecemasan kita hilang, dan merupakan langkah pertama menuju kemerdekaan. Karena itulah Allah  ingin memakai kelemahan kita, bukan hanya kekuatan kita.  Jika yang orang lihat hanya kekuatan kita, mereka menjadi patah semangat dan berpikir, “Yah, baik baginya, tetapi aku tidak akan pernah melakukan itu.” Tetapi ketika mereka melihat Allah yang memakai kita di balik kelemahan kita, hal tersebut mendorong mereka untuk berpikir, “Mungkin Allah bisa memakaiku.” Kekuatan-kekuatan kita menimbulkan persaingan, tetapi kelemahan-kelemahan kita menciptakan komunitas. Pada satu titik dalam kehidupan kita, kita harus memutuskan apakah kita ingin mengesankan bgai orang atau mempengaruhi orang.



4.       Kemuliaan di dalam kelemahan-kelemahan kita
Sebaliknya dari pada berpura-pura percaya diri dan tak terkalahkan, pandanglah diri kita sebagai sebuah piala anugerah. Pada saat iblis menunjukkan kelemahan-kelemahan kita, setujulah dengannya dan penuhi hati kita dengan pujian kepada Yesus, yang “memahami setiap kelemahan kita” dan kepada Roh Kudus, yang “membantu kita dalam kelemahan kita.” Namun kadangkala Allah mengubah sebuah kekuatan menjadi kelemahan untuk memakai kita lebih hebat lagi.
Allah menyentuh kekuatan Yakub (otot paha merupakan yang terkuat di dalam tubuh) dan mengubahnya menjadi kelemahan. Semenjak itu, Yakub berjalan dengan pincang supaya ia tidak pernah bisa melarikan diri lagi. Hal itu mendorong Yakub untuk bergantung kepada Allah entah dia suka atau tidak. Jika kita ingin Allah memberkati kita dan memakai kita secara luar biasa, kita harus bersedia berjalan dengan pincang sepanjang hidup kita, karena Allah memakai orang-orang lemah.

Comments

Popular posts from this blog

Wanita Lebih Berharga Dari Pada Permata

KETIKA ALLAH TERASA JAUH