KETIKA ALLAH TERASA JAUH



“Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Matius 27:46)


                Allah itu nyata, tidak peduli apa yang kita rasakan.
                Mudah untuk menyembah Allah pada saat segala sesuatu berjalan baik dalam kehidupan kita, yakni pada saat Dia menyediakan makanan, teman, keluarga, kesehatan, dan situasi-situasi yang bahagia. Tetapi keadaan tidak selalu menyenangkan. Lalu bagaimana kita menyembah Allah waktu keadaan tidak menyenangkan? Apa yang kita lakukan ketika Allah terasa jutaan mil jauhnya? Hal ini juga yang terjadi pada Tuhan Yesus di kayu salib seperti dalam perkataanNya “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?
                Tingkat penyembahan yang terdalam adalah memuji Allah meski menderita, mengucap syukur kepadaNya pada saat pencobaan, berharap kepadaNya ketika dicobai, berserah diri sementara menderita dan mengasihi Dia ketika Dia terasa jauh.
                Persahabatan seringkali diuji melalui perpisahan dan diam; kita dipisahkan oleh jarak fisik atau kita tidak bisa berbicara. Dalam persahabatan dengan Allah, kita tidak akan selalu merasa dekat denganNya. Setiap hubungan meliputi saat-saat dekat dan saat-saat jauh, dan dalam hubungan dengan Allah, betapapun akrabnya, keadaan itu juga berlaku. Saat jauhnya adalah ketika penyembahan menjadi sulit.
                Untuk mendewasakan persahabatan kita, Allah akan mengujinya dengan masa-masa yang rasanya seperti perpisahan, yakni masa-masa ketika rasanya seolah-olah Allah telah meninggalkan dan melupakan kita.
Daud memiliki persahabatan yang paling dekat dengan Allah dibandingkan dengan siapapun. Allah berkenan memanggilnya “seorang yang berkenan dihatiNya”, namun Daud sering mengeluh tentang ketidakhadiran Allah yang nyata.
                Tentu Allah tidak benar-benar meninggalkan Daud, dan Dia tidak meninggalkan kita, sebetulnya Allah mengakui bahwa kadang-kadang Dia menyembunyikan wajahNya dari kita. Ada saat-saat ketika Dia sepertinya menghilang dari kehidupan kita. Kita bangun pagi dan semua perasaan rohani kita lenyap. Kita berdoa, tetapi tidak ada yang terjadi. Kita mengusir roh jahat, tetapi hal tersebut tidak mengubah apapun. Kenyataannya, tidak ada yang salah dengan kita! Inilah bagian normal dari pengujian dan pendewasaan persahabatan kita dengan Allah. Hal tersebut menyakitkan dan tidak enak rasanya, tetapi sangat penting bagi perkembangan iman kita. Mengetahui hal ini memberi Ayub harapan ketika dia tidak bisa merasakan kehadiran Allah dalam kehidupannya.
                Ketika Allah terasa jauh, kita mungkin berpikir bahwa Dia marah terhadap kita atau sedang menghukum kita karena suatu dosa. sesungguhnya, dosa memang memisahkan kita dari persekutuan yang akrab dengan Allah. Kita mendukakan Roh Allah dan memadamkan persekutuan kita dengan Dia melalui ketidaktaatan, konflik dengan orang lain, kesibukan, persahabatan dengan dunia, dan dosa-dosa yang lain.
                Tetapi sering kali perasaan ditinggalkan atau dijauhkan oleh Allah ini tidak berkaitan dengan dosa. Ini merupakan ujian iman, salah satu ujian yang harus kita hadapi. Kesalahan paling umum yang dibuat oleh orang kristen dalam penyembahan sekarang ini adalah mencari suatu pengalaman dan bukannya mencari Allah. Mereka mencari suatu perasaan dan jika hal tersebut terjadi, mereka menyimpulkan bahwa mereka telah menyembah. Salah! Allah sering kali menyingkirkan perasaan-perasaan kita supaya kita tidak akan bergantung pada perasaan itu. Mencari suatu perasaan, bahkan perasaan dekat dengan Kristus sekalipun, bukanlah penyembahan.
                Allah selalu ada, bahkan ketika kita tidak menyadariNya, dan kehadiranNya terlalu dahsyat untuk dapat diukur dengan emosi belaka. Dia ingin agar kita merasakan kehadiranNya, tetapi Dia lebih suka kita mempercayaiNya ketimbang kita merasakanNya. Iman, bukan perasaan, menyenangkan Allah.
                Situasi-situasi yang bisa paling memperbesar iman kita adalah saat-saat kehidupan berantakan dan Allah tidak bisa ditemukan di mana-mana. Bagaimana kita memuji Allah bila kita tidak memahami apa yang terjadi dalam kehidupan kita dan Allah diam? Bagaimana kita tetap berhubungan dalam krisisi tanpa komunikasi? Bagaimana kita bisa memandang Yesus bila mata kita penuh dengan air mata?
1.       Katakan kepada Allah secara persis apa yang kita rasakan.
Curahkan isi hati kita kepada Allah.  Keluarkan semua emosi yang kita rasakan. Allah bisa menangani kebimbangan, kemarahan, ketakutan, kesedihan, kebingungan dan keraguan kita. Tahukah kita bahwa mengakui keputusasaan kita kepada Allah bisa merupakan pernyataan iman? Mempercayai Allah tetapi sekaligus merasa putus asa. Ini kedengarannya seperti kontradiksi: aku percaya Allah, tetapi aku hancur! Keterbukaan Daud sebenarnya menunjukkan iman yang dalam. Pertama, ia percaya kepada Allah. Kedua, ia percaya bahwa Allah akan mendengarkan doanya. Ketiga, ia percaya bahwa Allah akan membiarkannya mengatakan apa yang ia katakan dan tetap mengasihinya.
Pusatkan perhatian pada keberadaan Allah, sifatNya yang tidak berubah.  Tanpa menghiraukan keadaan dan perasaan kita, berpeganglah erat-erat pada karakter Allah yang tidak berubah. Ingatkan dir kita tentang apa yang kita tahu benar  untuk selama-lamanya mengenai Allah. Ketika kehidupan Ayub berantakan, dan Allah diam, Ayub tetap menemukan hal-hal yang membuat dia bisa memuji Allah yaitu bahwa Allah baik dan penuh kasih, bahwa Allah mahakuasa, bahwa Allah melihat sampai hal terkecil dari kehidupan Ayub, bahwa Allah memegang kendali, bahwa Allah memiliki rencana untuk kehidupan Ayub, dan bahwa Allah akan menyelamatkannya.
2.       Percaya bahwa Allah menepati janji-janjiNya.
Masa-masa kekeringan rohani, kita harus dengan sabar bersandar pada janji-janji Allah, bukan pada emosi kita, dan menyadari bahwa Dia sedang membawa kita kepada tingkat kedewasaan yang lebih dalam. Suatu persahabatan yang didasarkan pada emosi pastilah dangkal. Jadi jangan terganggu oleh kesulitan. Keadaan tidak dapat mengubah karakter Allah. Kasih karunia Allah tetap dalam kekuatan penuh; Allah tetap memihak kita, meskipun kita tidak merasakannya.
Keyakinan pada firman Allah ini membuat Ayub tetap setia sekalipun tidak ada hal yang masuk akal. Imannya kuat di tengah-tengah penderitaan. Ketika kita merasa ditinggalkan oleh Allah tetapi kita tetap mempercayaiNya tanpa peduli pada perasaan-perasaan kita, kita sedang menyembah Dia dengan cara yang terdalam.
3.       Ingatlah apa yang telah Allah kerjakan bagi kita.
Allah tidak pernah melakukan hal lain apapun bagi kita, Dia tetap layak menerima pujian kita selama sisa hidup kita karena apa yang telah Yesus lakukan bagi kita di atas kayu salib. Anak Allah mati bagimu! Inilah alasan terbesar untuk menyembah. Sayangnya, kita melupakan rincian kejam dari pengorbanan menyakitkan yang telah Allah lakukan bagi kita. Keakraban menimbulkan kepuasan. Bahkan sebelum penyalibanNya, Anak Allah ditelanjangi, dipukul hingga nyaris tidak bisa dikenali, dicambuk, dihina dan diejek, dimahkotai duri, dan diludahi dengan kebencian.
Lalu ketika Yesus menanggung sendiri semua dosa dan kesalahan manusia, Allah memalingkan wajah dari pandangan buruk tersebut, dan Yesus berseru dalam keputusasaan penuh, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Yesus bisa saja menyelamatkan diriNya, tetapi dengan demikian Dia tentu tidak bisa menyelamatkan kita.
Kata-kata tidak bisa menggambarkan kegelapan pada saat tersebut. mengapa Allah mengijinkan dan menanggung penganiayaan yang demikian mengerikan dan kejam? Mengapa? Supaya kita bisa dibebaskan dari kekekalan di dalam neraka, dan agar kita bisa ambil bagian dalam kemuliaanNya selamanya! Yesus memberikan segalanya agar kita bisa memiliki segalanya. Dia mati supaya kita bisa hidup selamanya. Itu saja sudah patut bagi pujian dan ucapan syukur yang terus-menerus. Jangan pernah bertanya-tanya lagi tentang apa yang bisa kita syukuri.

“Hari Raya Jumat Agung merupakan penyataan kasih Allah yang terbesar bagi kita di mana Bapa menyerahkan AnakNya yang tunggal untuk menyatakan kasih dan kedekatanNya bagi kita di saat Allah terasa jauh”





Comments

Popular posts from this blog

Wanita Lebih Berharga Dari Pada Permata

KUASA ALLAH DI DALAM KELEMAHAN KITA