BERPIKIR SEPERTI SEORANG HAMBA



“Berpikirlah mengenai dirimu sama seperti pikiran Yesus Kristustentang Diri-Nya” Filipi 2:5


P

elayanan berawal di dalam pikiran kita.


Untuk menjadi seorang pelayan atau hamba dibutuhkan perubahan mental, suatu perubahan di dalam sikap kita. Allah selalu lebih tertarik pada mengapa kita mengerjakan sesuatu ketimbang pada apa yang kita kerjakan. Sikap lebih berarti daripada pencapaian. Pelayan-pelayan sejati melayani Allah dengan cara berpikir yang mengandung lima sikap, yaitu:

1.      Para pelayan lebih banyak memikirkan orang lain daripada diri mereka sendiri.
Para pelayang mengutamakan orang lain, bukan dirinya sendiri. Inilah kerendahan hati yang sejati. Bukan menganggap diri kita kurang, melainkan kurang memikirkan diri kita sendiri. Mereka suka lupa pada diri mereka sendiri. Inilah apa yang dimaksudkan “kehilangan nyawa kita,” yaitu melupakan diri kita dalam melayani orang lain.
Ketika kita berhenti berfokus pada kebutuhan-kebutuhan kita sendiri, kita menjadi sadar akan kebutuhan-kebutuhan di sekeliling kita. Yesus “telah mengosongkan diriNya dan mengambil rupa seorang hamba”. Hanya bila kita melupakan diri kita sendiri barulah kita  melakukan hal-hal yang layak untuk diingat.
Sayangnya, banyak pelayanan kita sering kali merupakan pelayanan pada diri sendiri. Kita melayani supaya orang lain menyukai kita, supaya dikagumi, atau supaya kita mencapai tujuan-tujuan kita sendiri. Ini adalah manipulasi, bukan pelayanan. Sifat melupakan diri sendiri, seperti halnya kesetiaan, sangatlah jarang. Kita dapat mengukur hati pelayan dalam diri kita melalui cara kita memberi respon ketika orang lain memperlakukan kita seperti pelayan.
Bagaimana reaksi kita ketika kita diterima biasa-biasa saja, diperintah, atau diperlakukan sebagai seorang yang tidak penting? Alkitab mengatakan: “kalau seseorang memanfaatkanmu secara tidak adil, pakailah kesempatan itu untuk melatih kehidupan sebagai pelayan.”

2.      Para pelayan berpikir seperti penatalayan, bukan pemilik.
Para pelayan ingatlah bawa Allah memiliki segalanya. Di dalam Alkitab, seorang penatalayan ialah seorang hamba yang dipercayai untuk mengelola harta. Contoh yang nyata adalah Yusuf di rumah Potifar. Untuk menjadi seorang hamba atau pelayan sejati kita harus menyelesaikan masalah keuangan di dalam kehidupan kita. Hidup untuk pelayanan dan hidup untuk uang sama-sama merupakan tujuan-tujuan yang eksklusif.
Manakah yang akan kita pilih? Jika kita seorang pelayan Allah, kita tidak bisa bekerja sambilan untuk diri kita sendiri. Seluruh waktu kita adalah milik Allah. Dia menuntut komitmen penuh, bukan kesetiaan paruh waktu. Uang memiliki potensi terbesar untuk menggantikan Allah di dalam kehidupan kita. Banyak orang tidak melayani karena materialisme ketimbang karena hal lainnya.
Dalam Alkitab, sangatlah jelas: Allah memakai uang untuk menguji kesetiaan kita sebagai seorang pelayan. Karena itulah Yesus lebih banyak berbicara tentang uang daripada surga atau neraka. Cara kita mengelola uang kita mempengaruhi seberapa banyak Allah memberkati kehidupan kita.

3.      Para pelayan berpikir tentang pekerjaan mereka, bukan apa yang dikerjakan orang lain.
Mereka tidak membanding-bandingkan, mengkritik, atau bersaing dengan pelayan atau pekerja pelayanan lainnya. Mereka terlalu sibuk melakukan pekerjaan yang telah Allah berikan kepada mereka. Persaingan di antara pelayan-pelayan Allah tidak masuk akal karena terlalu banyak alasan: kita semua berada dalam tim yang sama; sasaran kita ialah membuat Allah terlihat baik, bukan diri kita sendiri; kita telah diberi tugas-tugas yang berbeda; dan kita semua dibentuk dengan cara yang unik.
Tidak ada tempat bagi rasa iri hati yang picik di antara para pelayan. Ketika kita sibuk melayani, kita tidak memiliki waktu untuk mengkritik. Setiap waktu yang dihabiskan untuk mengkritik orang lain lebih baik digunakan untuk melayani. Tugas kita bukanlah menilai pelayan-pelayan Tuhan lainnya. Juga bukan tugas kita membela diri kita terhadap kritikan. Biarkan Tuhan kita menanganinya. Ikutilah teladan Yesus.
Jika kita melayani seperti Yesus, kita bisa menduga akan dikritik. Dunia, dan bahkan banyak gereja, tidak memahami apa yang dihargai oleh Allah. Contohnya adalah Maria mengambil benda yang paling berharga yang dia miliki, parfum yang mahal dan menuangkannya di kaki Yesus. Pelayanannya yang “mewah” disebut pemborosan oleh para murid, tetapi Yesus menyebutnya ‘perbuatan baik’. Pelayanan kita bagi Kristus tidak pernah merupakan pemborosan, tidak peduli apa yang dikatakan oleh orang lain.

4.      Para pelayan mendasarkan identitas mereka di dalam Kristus.
Karena mereka ingat bahwa mereka dikasihi dan diterima oleh karena kasih karunia, para pelayan Tuhan tidak harus membuktikan kelayakan mereka. Mereka dengan rela menerima pekerjaan-pekerjaan yang oleh orang-orang yang kurang percaya diri dianggap “tidak pantas” untuk mereka kerjakan.
Salah satu teladan yang sangat luar biasa tentang melayani dari satu citra diri yang kokoh ialah tindakan Yesus yang membasuh kaki para murid. Membasuh kaki setara dengan menjadi seorang penyemir sepatu. Namun Yesus tahu siapa DiriNya, jadi tugas tersebut tidak mengancam citra diriNya.
Jika kita hendak menjadi seorang pelayan, kita harus menaruh identitas kita di dalam Kristus. Hanya orang-orang yang percaya diri yang bisa melayani. Orang-orang yang tidak percaya diri selalu kuatir tentang bagaimana mereka terlihat oleh orang lain. Para pelayan tidak perlu menutupi dinding-dinding mereka dengan piagam dan penghargaan untuk membuktikan pelayanan mereka. Mereka tidak menuntut disapa dengan gelar dan mereka tidak membungkus diri dalam jubah superioritas.
Jika ada orang yang memilih kesempatan seumur hidup untuk memamerkan kerabat-kerabatnya dan menyebut nama kenalannya yang terkenal itulah Yakobus, saudara tiri Yesus. Semakin dekat kita kepada Yesus, semakin sedikit kita perlu untuk mempromosikan diri kita sendiri.

5.      Para pelayan memikirkan pelayanan sebagai sebuah kesempatan, bukan sebuah kewajiban
Mereka senang menolong orang lain, memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan mengerjakan pelayanan. Mereka “melayani Tuhan dengan sukacita.” Mengapa mereka melayani dengan sukacita? Karena mereka mengasihi Tuhan, mereka bersyukur atas kasih karuniaNya, mereka tahu bahwa melayani merupakan pemanfaatan kehidupan yang tertinggi, dan mereka tahu bahwa Allah telah menjanjikan satu pahala. Yesus berjanji, “Bapa akan menghormati dan memberi upah kepada orang yang melayani Aku.”
Bayangkan apa  yang bisa terjadi seandainya 10 persen saja dari semua orang Kristen di dunia bersungguh-sungguh berperan sebagai pelayan-pelayan yang sejati. Bayangkan semua hal baik yang bisa diselesaikan. Bersediakah kita menjadi salah satunya? Tidak peduli berapapun usia kita, Allah memakai kita jika kita mulai bertindak dan berpikir seperti seorang pelayan.

Comments

Popular posts from this blog

Wanita Lebih Berharga Dari Pada Permata

KUASA ALLAH DI DALAM KELEMAHAN KITA

KETIKA ALLAH TERASA JAUH