"Kembali Beribadah"
(Nehemia 8:1-7)

Sejak zaman Bapa leluhur kita, mereka suka mempersembahkan korban
bakaran bagi Tuhan.
Bagi kebanyakan orang mengakui kesalahan merupakan aib yang akan
mempermalukan dirinya sendiri. Tentu hal ini merupakan tipu muslihat iblis
untuk memperbudak manusia dalam egoisme sehingga tidak menikmati kehidupan yang
merdeka. Perasaan tidak merdeka (terjajah/terikat) menyebabkan seseorang tidak
dapat menyelenggarakan suatu kehidupan yang berkenan di hadapan Allah sebagai
ibadahnya kepada Allah setiap saat. Padahal ibadah yang sejati adalah
mempersembahkan segenap hidup yang terbebas dari perasaan terjajah oleh rasa
bersalah. Oleh sebab itu sangat penting sekali jika kita mau mengakui
kesalahan. Mengapa kita harus mengakui kesalahan kita?
1. Mengakui Kesalahan Merupakan Tanda Pertobatan
Seseorang dapat dikatakan sungguh-sungguh bertobat, ketika ia dengan
berani mengakui kesalahannya. Dengan mengaku kesalahan, kita mendapatkan
pengampunan dan penyucian dari Tuhan. Ciri-ciri orang yang tidak mau mengakui
kesalahan adalah:
-
Menipu dirinya sendiri
-
Tidak memiliki kebenaran dalam hidupnya
-
Menjadikan Tuhan Pendusta
-
Firman-Nya tidak ada di dalam kita
Ada pengampunan dan penyucian jika kita berani mengakui kesalahan. Daud
berani mengakui kesalahan lewat Mazmurnya.
2.
Mengakui
Kesalahan Merupakan Tanda Kerendahan Hati
Pengampunan akan datang jika ada kerendahan hati. Kerendahan hati tidak
terjadi seketika. Perlu proses dan latihan setiap hari. Tuhan tidak mungkin
dapat mengampuni kita jika kita tidak dengan rendah hati mengakui kesalahan
kita.
Daud disebut orang yang berkenan di hadapan Allah karena Daud mau rendah
hati ketika Natan menegurnya. Bagi seorang Raja tentu hal yang berat untuk
mengakui kesalahan di hadapan bawahannya. Tetapi Daud mau melakukan itu.
Artinya bahwa Daud sungguh-sungguh menyadari apa yang telah diperbuatnya adalah
sebuah kesalahan di hadapan Tuhan. selain itu, kerendahan hati juga lahir dari
kesadaran akan siapa dirinya dan siapa Tuhan baginya. Kegagalan untuk memahami
hal ini, akan menggiring kita tidak memiliki kerendahan hati sehingga sulit
untuk mengakui kesalahan.
3.
Mengakui Kesalahan Tanda Mengecap Kesetiaan & Keadilan
Pada saat kita mengakui kesalahan kita, Tuhan
menunjukkan kesetiaan dan keadilannya bagi kita. Artinya bahwa keadilan Tuhan
dalam memberikan pengampunan terletak pada kesediaan kita untuk mengaku dosa
kita di hadapanNya. Ketika Daud mau mengakui doa-dosanya, maka Tuhan memulihkan
hidupnya. Ada 3 berkat yang dapat kita terima ketika kita mau mengakui
kesalahan kita, yaitu kesetiaan dan keadilan, pengampunan, serta penyucian.
“JANGAN BERKECIL HATI”
Nehemia 4:10
"Berkatalah orang Yehuda: 'Kekuatan para pengangkat sudah merosot dan
puing masih sangat banyak. Tak sanggup kami membangun kembali tembok
ini.'" Keputusasaan dapat disembuhkan. Setiap kali Anda berkecil hati, ingatlah
kisah
Nehemia. Pemimpin besar Israel kuno ini paham empat alasan mengapa kita berkecil hati.
Pertama, Anda
lelah. Anda hanya sedang kelelahan, sama seperti
apa yang dirasakan para buruh (pengangkat batu) dalam Nehemia 4:10. Kita manusia, dan kian waktu tenaga kita kian terkuras. Anda tidak dapat membakar lilin di kedua ujungnya. Jadi jika Anda berkecil hati atau putus asa, mungkin Anda tidak
perlu mengubah apa pun. Anda hanya perlu liburan! Kadang-kadang hal yang paling spiritual yang bisa membantu Anda
adalah pergi ke tempat tidur.
Kedua, Anda
frustrasi. Nehemia mengatakan ada banyak reruntuhan
puing yang berserakan, begitu banyaknya sehingga para pekerja kewalahan
membangun kembali tembok Yerusalem. Apakah ada
puing-puing dalam hidup Anda? Pernahkah Anda memperhatikan bahwa setiap
kali Anda mulai melakukan sesuatu yang baru, sampah mulai menumpuk? Jika Anda tidak membersihkannya secara berkala, itu akan
menghentikan kemajuan Anda. Anda tidak bisa menghindarinya, jadi Anda
perlu belajar untuk mengenali dan membuangnya dengan cepat sehingga Anda tidak
kehilangan fokus pada tujuan awal Anda.
Ketiga, Anda
berpikir Anda telah gagal. Anak buah Nehemia tidak mampu menyelesaikan
tugas mereka secepat yang direncanakan, dan akibatnya, kepercayaan diri merekar
untuh. Mereka berpikir, "Betapa bodohnya kami mengira bisa
membangun kembali tembok ini." Tapi taukah Anda
apa yang saya lakukan ketika saya tidak mewujudkan tujuan saya tepat waktu? Saya membuat tujuan baru. Saya tidak
menyerah. Semua orang pernah gagal. Semua orang pernah melakukan hal-hal bodoh.
Jadi
bukan perkara Anda gagal; melainkan bagaimana Anda menanggapi
kegagalan tersebut. Apakah Anda mulai menyerah karena kasihan
pada diri sendiri? Apakah Anda mulai menyalahkan orang lain? Apakah Anda mulai mengeluh bahwa impian Anda tak akan mungkin
terwujud? Atau, apakah Anda kembali fokus pada
rancangan Tuhan dan berdiri lagi?
Yang terakhir,
jika Anda menyerah pada rasa takut, Anda akan patah semangat. Nehemia pasal 4 menunjukkan orang-orang yang paling dipengaruhi
oleh rasa takut adalah mereka yang bergaul dengan orang-orang yang negatif. Jika Anda mau mengontrol pikiran negatif dalam hidup Anda, Anda
harus menjauh sejauh yang Anda bisa dari orang-orang yang berpikiran negatif. Mungkin Anda berkecil hati karena takut.
Anda
berkata pada diri Anda, "Saya tidak bisa menghadapinya. Tangggung jawab
ini terlalu besar." Sebenarnya yang Anda takutkan ialah
kritikan dan penolakan. Ketakutan akan menghancurkan hidup Anda
jika Anda membiarkannya saja. Tapi Anda dapat memilih untuk menolaknya. Berserulah, "Tuhan, bantu aku memalingkan mataku dari
masalah dan keadaan ini, dan bantu aku untuk hanya memandang-Mu."
Renungkan hal ini: Puing adalah hal-hal
sepele yang hanya membuang-buang waktu dan energi Anda, yang mencegah Anda
menyelesaikan panggilan Allah atas hidup Anda. Apa yang menjadi
puing-puing dalam hidup Anda? Apa yang perlu Anda
lakukan untuk mengurangi hal negatif yang membuat Anda berkecil hati
Comments
Post a Comment